Maksim kualitas mewajibkan penutur memberikan kontribusi secukupnya, tidak berlebihan, hanya mengatakan sebanyak yang dibutuhkan lawan tutur. Maksim kualitas menghendaki penutur mengatakan hal yang sebenarnya dengan argumen bukti yang memadai.
Maksim relevansi menuntut penutur memberi kontribusi yang cocok (relevan) dengan topik tuturan. Maksim cara menuntut setiap penutur bertutur dengan cara-cara yang wajar, jelas, tidak kabur, tidak taksa (ambiguous), serta disampaikan dengan cara yang runtut, sehingga tidak menyesatkan dan tidak menimbulkan kesalahpahaman bagi lawan tutur (Levinson, 1995; Yule, 1996).
Ketaksaan makna tuturan dapat terjadi karena aspek fonologis, leksikal, gramatika, sinonim, eufemisme, dan hubungan analogi antarteks (Chiaro, 1992). Setiap tuturan dapat dilihat dari satu atau lebih maksim itu. Perhatikan contoh (1) berikut.
- “Apakah kekasihmu termasuk orang yang menghargai waktu?” tanya seorang ibu kepada anak gadisnya.
“Tentu saja,” jawab anak, “karena dia seorang pedagang arloji.” (Suara Indonesia, 13 April 2000: 13)
Dalam wacana (1) terjadi tiga penyimpangan sekaligus.
Pertama, penyimpangan terhadap maksim kualitas karena sang ibu tidak mengajukan pertanyaannya secara lengkap.
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Selanjutnya






