Namun mereka tampaknya sengaja menutup mata terhadap kekurangan-kekurangan yang terjadi pada era tersebut, khususnya yang berkenaan dengan para sultan atau raja yang memimpin dinasti-dinasti itu.
HTI begitu mengagungkan konsep khilafah model dinasti Turki Utsmani yang bercorak feodalistik dan kesukuan, bahkan cenderung despotik. Padahal, sistem kekhalifahan Islam telah berakhir dengan terbunuhnya Ali dan munculnya dinasti Umayyah.
Sesudah era Ali, sistem yang dianut bukan lagi khilafah tetapi dinasti, kerajaan atau kesultanan yang diperintah oleh klan yang berkuasa.
Kepemimpinan ditentukan atas dasar keturunan, kesukuan, dan kekerabatan yang absolut dan cenderung otoriter.
Jika empat Khulafa` ar-Rasyidin dipilih berdasarkan kualifikasi keunggulan, keutamaan, keilmuan, dan ketakwaan, sejak dinasti Ummayyah hingga runtuhnya Turki Utsmani, kepemimpinan ditentukan secara turun-menurun.
Dan itu bukanlah konsep khilafah ‘ala minhajin nubuwwah sebagaimana yang kerap mereka gembar-gemborkan. Istilah khalifah sebagai pengganti nabi diganti dengan istilah khalifatullah yang mencerminkan imunitas seorang pemimpin.
Inilah politisasi agama yang dilakukan untuk dapat mempertahankan kekuasaannya.
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Selanjutnya





