Sehingga tanpa sadar sebagian masyarakat beranggapan tidak ada salahnya bila mengikuti organisasi HTI dan ikut berpartisipasi dalam aktivitasnya.
Pandangan HTI dalam kehidupan berbangsa-lah yang menjadi titik tolak bagi sebagian besar masyarakat serta pemerintah NKRI atas keberadaan HTI.
Hizbut Tahrir yang berasal dari bahasa arab yaitu Hizb at-Tahrir atau Party of Liberation (partai pembebasan), jelas merupakan gerakan politik yang mengaku beridelogi Islam, menekankan pada perjuangan untuk membangkitkan umat Islam di seluruh dunia, dan menyatukan seluruh komunitas tanpa adanya batasan geografis, kebudayaan, dan politik.
Dalam upaya membentuk kesatuan tunggal tersebut menitikberatkan perjuangan dengan membangkitkan umat Islam di seluruh dunia dan bertujuan untuk menegakkan Kekalifahan Islam atau negara Islam. Hizbut Tahrir membagi wilayah atas dar al-Islam (wilayah Islam), dan diluar itu dinamakan dar al-kufr (wilayah kafir).
Untuk menyatukan wilayah dalam membentuk suatu Khilafah Islamiah tentu bukanlah hal yang mudah. Jika Plato berpandangan negara adalah idealnya sebuah keluarga yang dijaga kesatuannya, maka Hizbut Tahrir justru akan memecahkan persatuan dan kesatuan suatu negara untuk digabungkan dengan negara lainnya dalam bentuk suatu khilafah.
Dengan visi sebesar itu, tidak mungkin Hizbut Tahrir dapat melakukan penundukan kepada negara-negara secara damai tanpa adanya kekerasan.
Disamping itu, jika HTI menitikberatkan perjuangannya dalam mengembalikan kejayaan negara Islam pada zaman dulu, tentu tidak relevan untuk dipaksakan dengan keadaan saat ini.
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Selanjutnya





