Hizbut Tahrir Indonesia Dipandang dari Berbagai Perspektif

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 15 September 2020 - 21:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DR M. Kapitra Ampera SH MH, Ketua Umum Gerakan Guyub Nasional Indonesia (GGNI). /Instagram/@m.kapitraampera/

DR M. Kapitra Ampera SH MH, Ketua Umum Gerakan Guyub Nasional Indonesia (GGNI). /Instagram/@m.kapitraampera/

  • PERSPEKTIF SOSIOLOGI

Kehidupan masyarakat di suatu negara dapat tumbuh berkembang maupun mengalami kemunduran diakibatkan proses sosial kehidupannya. Suatu negara terbuka atas masuknya tekhnologi akan berdampak pada kehidupan sosial masyarakat yang cakap dan maju dalam tekhnologi.

Begitu pula dengan masuknya paham dan pandangan atas ideologi yang dapat berpengaruh pada tingkah laku masyarakat berdasarkan informasi yang ia dapatkan.

Dalam pandangan sosiologi, suatu perubahan sosial akan mengganggu keseimbangan masyarakat yang stabil. Tuntutan akan perubahan akan membuat gejolak sosial hingga masyarakat kembali mendapatkan keseimbangan baru.

Pemikiran dan Konsep HTI yang mengaku mendasarkan ideologinya pada Islam, tentu akan mudah diterima pemeluk agama Islam di Indonesia.

Konsep Khilafah yang mengupayakan adanya kesatuan tunggal bagi seluruh umat Islam di dunia yang menghilangkan batasan geografis, kebudayaan dan politik, diaggap sebagai syariat Islam yang wajib untuk dilaksanakan.

Konsep Khilafah yang dibawa Hizbut Tahrir Indonesia, pada awalnya berupaya masuk melalui dakwah di kampus-kampus dan gerakan-gerakan dakwah di mesjid-mesjid.

Gerakan dakwah khilafah yang dilakukan, lebih kepada gerakan sosial untuk membentuk arah kehidupan masyarakat agar cenderung sepaham dengan konsep khilafah yang disampaikan dalam dakwahnya, meski gerakan ini nantinya akan berujung pada gerakan politis (kekuasaan).

Berita Terkait

Ketika Layar TV Membesar, Apa yang Sebenarnya Kita Butuhkan?
Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 13:34 WIB

Ketika Layar TV Membesar, Apa yang Sebenarnya Kita Butuhkan?

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Berita Terbaru

Pers Rilis

CGTN Luncurkan News Pal, Asisten Berita Berbasis AI

Jumat, 23 Okt 2026 - 04:18 WIB