Contoh lain pelanggaran maksim kualitas adalah penuturan GD tentang pidato sambutan seorang kiai desa kepada rombongan bupati yang berkunjung ke pondok pesantrennya (Adnan, 2000 4-5).
“Bapak Bupati yang terhormat,” katanya, “kami sudah membangun beberapa kamar mandi dan saudara-saudaranya.” Pada kesempatan makan bersama, Pak Bupati berbisik menanyakan maksud kamar mandi dan saudara-saudaranya itu. Kiai menjawab, “Maksudnya beberapa WC, Pak. Tapi rasanya kok tidak enak kalau ngomong WC…”
Di samping itu, “kegemaran” GD saat membuat pernyataan tentang siapa dalang kerusuhan dengan menyebut inisial nama orang dapat juga ditunjuk sebagai pangkal terjadinya pelanggaran maksim ini. Misalnya, ketika GD pernah menyatakan bahwa kerusuhan Ambon didalangi oleh provokator berinisial “Mayjen K”.
Kontan, Mayjen Kivlan Zein merasa terserempet dan marah. Ternyata, menurut GD, “Mayjen K” itu bukan Mayjen Kivlan, melainkan “Mayjen Kunyuk” (kera, Jawa) (Basyaib & Hermawan, 2000).
Saat sebelumnya, GD pernah menuduh “ES” sebagai dalang kerusuhan dan pembunuhan massal di Banyuwangi. Kontan tokoh-tokoh yang merasa namanya berinisial ES, seperti Emil Salim, Edi Sudrajat, Eki Syahruddin, merasa tersodok, bahkan Eggi Sujana marah besar pada GD.
Ternyata kemudian, menurut GD, ES itu “Eyang Suharto”. Ketidaklengkapan informasi inilah pangkal pelanggaran maksim kuantitas.
Jika orang merasa dituduh, ini tidak aneh sebab berdasarkan implikatur pertuturan dan implikatur konvensional (Samsuri, 1997) yang menjadi konteks pembicaraan, hal itu sangat dimungkinkan. Hal ini pulalah yang memicu HGD.
Maksim kedua yang harus dipenuhi seorang penutur adalah maksim kualitas. Di sini penutur harus menyampaikan informasi dengan alasan yang tidak salah dan bukti yang cukup serta benar. Bagaimana maksim ini diperlakukan dalam HGD? Perhatikan wacana (6) berikut.
- Seorang kiai mengambil ayam santrinya, memotong, dan memakan¬nya bersama-sama para santri. Santri pemilik ayam datang mengadu, “Pak Kiai, ayam saya hilang.” Kiai menjawab, “Oh, iya. Saya barusan telah memotong ayam. Tapi yang saya potong itu ayamnya Gusti Allah.” Sang santri pun terdiam.
Besoknya, santri itu “mencuri” kambing milik kiai. Kambing itu dipotong, dimasak ramai-ramai. Tahu kambingnya lenyap, kiai melakukan penyelidikan. “Hayo, siapa yang mencuri kambing saya?”
Baca Juga:
Hikvision Hadirkan Guanlan Encoding, Teknologi AI yang Pangkas Biaya Penyimpanan Video hingga 50%
Sang santri menjawab kalem, “Saya memang mencuri kambing, Kiai. Tetapi, kambing itu kambingnya Gusti Allah.”
Sang Kiai menyahut loyo, “Sekalipun milik Allah, tetapi ya jangan yang besar-besar begitu …!” (Adnan, 2000: 6)
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Selanjutnya






