Di sini dilihat dari usia, situasi, dan budaya masyarakat Indonesia semodern apa pun, kata-kata telek tahi ayam masih tetap sebuah pelanggaran prinsip parameter pragmatik jarak sosial.
Parameter selanjutnya adalah status sosial. Status sosial antarpenutur harus diperhatikan agar komunikasi dalam tindak tutur berjalan efektif. Dalam hal ini contoh yang akan diketengahkan adalah relasi santri sebagai murid dan kiai sebagai guru dan panutan di lingkungan pondok pesantren. Perhatikan wacana (18) berikut.
- Di Pondok Pesantren Tambak Beras asuhan Kiai Fattah berlaku aturan: santri ketahuan merokok, dihukum. Suatu malam listrik padam. Kiai Fattah duduk merokok di luar balai. Seorang santri bandel lewat. Melihat ada orang merokok, santri ini mendekati, “Sa’ sedotan, Kang!” katanya. Maksudnya minta barang satu isap saja, sebagaimana kebiasaan umum para santri. Kiai Fattah pun mengulurkan rokoknya.
Saat rokok dihisap santri, nyala rokok menerangi wajah Kiai. Begitu mengenali wajah si empunya rokok, seketika santri lari tunggang langgang, lupa masih memegang rokok kiai. “Hei, rokokku aja digawa (jangan dibawa)!” teriak Kiai Fattah. (Basyaib & Hermawan, 2000; Adnan, 2000)
Dalam peristiwa tindak tutur (18) terjadi pelanggaran parameter status sosial, dalam hal ini antara kiai dan santrinya. Humor ini tercipta justru karena pelanggaran itu pula. Apalagi, dalam HGD ini “kecelakaan” itu terjadi karena ketidaktahuan di mata santri tentang siapa pemilik rokok itu.
Santri bandel itu mengira pemilik rokok adalah kawan sesama santri di pondok itu. Dengan demikian, tanpa takut dan sungkan, ia pun meminta rokok, merokoknya, dan memanggil sebutan Kang kepada kiainya yang dalam situasi terang normal hal itu mustahil dilakukan. Karena ketidaktahuan inilah, parameter status sosial Brown dan Levinson (Levinson, 1995) terlanggar.
Contoh lain pelanggaran parameter status sosial adalah pertuturan GD ketika mengadakan open house di kediamannya, Ciganjur, Jakarta (1999). Berbagai kalangan dari beraneka suku, partai, ideologi, etnis, adat, dengan beragam tingkat pendidikan, niat, motivasi, kepentingan, dan gaya turut mengokohkan predikat GD sebagai manusia multidimensional, tokoh inklusif, akomodator, pluralis. Perhatikan wacana (19) berikut!
- Salah seorang pengunjung GD adalah masyarakat awam yang menyenangi hal-hal klenik mistis. Tamu tersebut dengan berbisik mengatakan niatnya ingin ditolong GD agar dapat bertemu Nyi Roro Kidul, Ratu Laut Selatan (Samudra Indonesia) itu. GD mengangguk-anggukkan kepalanya. “Apa sampeyan benar-benar ingin ketemu Nyi Roro Kidul?”
“Iya, Gus.”
“Coba sampeyan mendekat.” Orang itu langsung mendekat, berbinar membayangkan impiannya terkabul. GD berbisik ringan. “Apakah sampeyan belum pernah melihat Nyi Roro Kidul?”
“Belum, Gus…”
Baca Juga:
Hikvision Hadirkan Guanlan Encoding, Teknologi AI yang Pangkas Biaya Penyimpanan Video hingga 50%
“Sampeyan betul-betul ingin ketemu?” “Betul, Gus.”
“Sampeyan tahu …”
“Ada apa, Gus?” Si tamu makin penasaran.
“Begini-begini, … saya juga kepingin ketemu,” kata GD ringan. Orang-orang di ruangan itu tergelak, sementara tamu klenik itu tersipu. (Adnan, 2000: 66)
Baca Juga:
SK Innovation E&S Memimpin Inovasi dalam Ekosistem Startup untuk Pemuda di Indonesia
CGTN: 75 Tahun Xizang: Harmoni Pembangunan dan Pelestarian Budaya Ciptakan “Keajaiban di Atap Dunia”
ZTE Rilis Laporan Keberlanjutan 2025, Dorong Pembangunan Berkelanjutan lewat AI
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Selanjutnya






