Contoh berikut, (3) dan (4), masing-masing menggambarkan hubungan asimetris (parameter status sosial) dan situasi kemendesakan (parameter peringkat tindak tutur).
- Guru : Dua hari yang lalu kamu tak masuk, alasanmu hujan deras. Kemarin kamu terlambat, lagi- lagi alasanmu hujan. Pagi ini terlambat lagi. Apa lagi alasanmu?
Murid: Hujan, Bu. Betul, saya nggak bohong, Bu. Sumpah, deh. Guru : Lha, kalau tiap hari hujan, terus bagaimana?
Murid: Ibu ini bagaimana sih. Ya, banjir dong. (Musa, 1998)
- Cewek: Mas, Mas, tolong kejar, tas saya dijambret orang!
Cowok: E e e …, belum saling kenal kok nyuruh-nyuruh. Kenalan dulu dong! (Wijana, 1996)
Dalam interaksi guru-murid pada wacana (3) yang terjadi adalah pelanggaran terhadap parameter jarak sosial dan status sosial.
Secara sosial, hubungan guru-murid adalah berjarak: kedudukan, usia, mungkin juga jenis kelamin. Secara sosial pula, hubungan guru-murid tidak sejajar (asimetris). Maka, jawaban terakhir murid seperti (3) jelas melanggar kedua parameter. Pada wacana
- parameter yang dilanggar adalah peringkat tindak tutur, dalam hal ini kadar kemendesakan (Levinson, 1995; cf. Samsuri, 1997). Sang cewek dalam posisi sangat tergesa dan mendesak butuh pertolongan karena tasnya dijambret orang, sementara sang cowok malah memprioritaskan prosesi berkenalan.
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Selanjutnya






