Mestinya, paling tidak GD menampilkan sikap, tuturan, dan gaya yang “terhormat”, “tidak nyeleneh”; mestinya GD harus membedakan bahwa dia saat itu tidak sedang berbicara di hadapan para santri atau dengan para kiai di pesantren (yang lazimnya memang penuh canda), atau juga di tengah sahabat-sahabatanya di Fordem, LSM, apa saja yang lain.
Dalam cara pandang Brown dan Levinson (Levinson, 1995), GD telah menyalahi paradigma jarak sosial justru ketika GD harus menempatkan diri dalam suasana formal, standar, dan konvensional.
Akan tetapi, GD justru keluar dari kebakuan wacana (Wodak, 1996). Ia melakukan penjungkirbalikan norma tuturan konvensional politik kenegaraan selaku orang nomor satu di NKRI. Contoh lainnya dari paradigma
jarak sosial adalah lelucon GD ketika menjadi narasumber pada acara “Partai-Partai” di TPI, 1999, dipandu oleh moderator kritis Haris Jauhari (HJ) yang cerdas itu. Perhatikan cuplikan rekaman wacana
- berikut.
- HJ : Sebagai ketua PBNU, bagaimana pendapat Anda mengenai banyaknya partai selain PKB yang juga beridentitas NU. Misalnya PKU, PNU, PPP? Apa bedanya?
GD: Ya jelas beda dong. Ngapain bingung. Dari dulu orang-orang itu ya begitu itu. PKB, PKU, PNU, dan PPP dapat saya gambarkan begini. Ibarat ayam…, yang keluar dari dubur ‘kan tidak cuma telor, tapi juga telek, kotoran.
HJ : Maksudnya gimana, Gus?
GD: Maksudnya PKB itu telornya, selebihnya untuk yang selain PKB (sambil tertawa ngakak, sementara HJ geleng-geleng) (“Partai-Partai”, TPI, 1999)
Pada (17) GD agak kelewat batas. Kata-kata telek ‘tahi ayam’, ‘kotoran’ jelas tidak tepat dimunculkan untuk membuat tamsil bagi partai-partai orang NU selain PKB, yakni PPP, PKU, PNU. Dalam konteks tuturan resmi yang ditayangkan di TPI tersebut GD tidak dapat menjaga jarak.
Bagaimanapun kecintaan GD kepada PKB, yang memang dibidaninya, secara jarak sosial, ketika di hadapan moderator dan para mahasiswa peserta acara itu, di hadapan penelepon dan pemirsa seluruh negeri, GD mesti membuat jarak, GD seharusnya tampil tenang, netral, dan jika memihak pun harus dengan bahasa yang tidak seenaknya seperti itu.
Baca Juga:
Hikvision Hadirkan Guanlan Encoding, Teknologi AI yang Pangkas Biaya Penyimpanan Video hingga 50%
Akan tetapi, GD bukanlah Brown & Levinson (Levinson, 1995) yang menyarankan bahwa kesantunan berkomunikasi dalam membangun kebersamaan wacana harus mendasarkan diri pada tingkat keakraban yang tetap memperhatikan usia, situasi, latar sosial budaya (cf. Wodak, 1997; Samsuri, 1997).
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Selanjutnya






