Penelitian ini merupakan upaya awal untuk memahami lelucon GD dari perspektif pragmatik kewacanaan, terutama dari tindak tutur, untuk mengimbangi kajian-kajian retoris Presiden RI sebelum GD, yang sudah ada, misalnya retorika Bung Karno (Hooker, 1996), retorika Suharto (Eriyanto, 2000), dan retorika Habibie (Muslich, 2001).
Tentu saja beberapa kelemahan tersembunyi di dalam-nya. Berdasarkan kelemahan itu, beberapa saran diajukan di sini.
(1) Materi humor verbal hendaknya dikomprehensifkan dari berbagai sumber, mengingat lelucon tentang dan dari GD tersebar di mana- mana.
(2) Perspektif analisis yang digunakan hendaknya dilanjutkan aspek-aspek lain analisis wacana, misalnya saja implikatur percakapan, presuposisi, keterpaduan dan keruntutan, serta prinsip interpretasi lokal dan analogi, dan juga kemungkinan kekacauan-kekacauan wacana (disorders of discourse) dalam analisis wacana kritis versi R. Wodak (1996).
(3) Paradigma dan strategi penelitian dapat saja dikembangkan ke yang lain, misalnya interaksionisme simbolik, posmodernisme, biso-siasi, intertekstualitas, atau grounded research (Aminuddin, 1998; Mulyana, 2001). Dengan demikian, akan diperoleh hasil pemahaman kapasitas dan kualitas manusia Gus Dur yang semakin utuh, komprehensif, dan bulat (seperti orangnya).
Oleh : D. Jupriono2, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24






