Cermatilah wacana (9) berikut!
- Baru beberapa pekan menjabat presiden, GD didemonstrasi sekelompok orang. Para pendemo berhasil menerobos halaman istana dan dengan garang meneriakkan protes keras. “Presiden Gus Dur harus mundur sekarang juga! Gus Dur harus mundur! Munduuur…!!”
“Mundur…?” sahut GD santai. “Sampeyan ini bagaimana? Wong saya ini maju aja susah, harus dituntun, kok disuruh mundur!” (Basyaib & Hermawan, 2000: 16)
Ketidakrelevanan reaksi pada (9) tampak pada jawaban GD terhadap tuntutan demonstran. Demonstran menuntut GD mundur dari jabatannya sebagai Presiden RI, sedang GD menjawabnya dalam konteks mundur sebagai ‘berjalan kaki secara fisik dengan mundur ke belakang’.
Terang saja, hal ini tidak “nyambung” sama sekali. Tetapi, ini pun dapat ditafsirkan bahwa GD memandang sebelah mata terhadap kegarangan bahasa demonstran dengan jawaban santai, nakal, dan lucu.
Siapa pun mestinya menginterpretasikan tuntutan mundur itu berdasarkan implikasi konversasional dan implikasi konvensional (Samsuri, 1997; Crystal, 1997) dalam realitas konteks situasi saat itu.
Maksim selanjutnya adalah maksim cara, yang mengajarkan bahwa dalam bertutur sebaiknya tidak mengundang ketaksaan penafsiran dan jelas maksudnya, tidak kabur, dan harus runtut. Perhatikan wacana HGD (10) berdasarkan pengalaman GD berikut!
- Istrinya mendapat pembagian kredit sepeda motor, Kiai Wahab Sulang mencoba belajar mengendarainya. Hasilnya: menubruk tembok, sepeda motor rusak, dan Kiai Wahab luka-luka. “Habis, saya pakai rem kaki…”
“Lho, rem kaki ‘kan memang harus dipakai dalam hal begini, Kiai?”
“Ya …, tetapi maksud saya bukan begitu. Saya mengerem hanya pakai kaki saja. Karena belum tahu bagaimana dan di mana remnya.” (Wahid, 2000; Basyaib & Hermawan, 2000).
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Selanjutnya






