Jadi, salah juga kalau kedekatan diukur dari bentuk sebutan panggilan (Om dari pedanda Hindu, Bapa pastor Katolik) atau tempat memanggil (menara, kiai Islam) kepada-Nya.
Maksim ketiga yang hendak dilihat dalam HGD adalah maksim relevansi. Maksim ini menyarankan agar penutur menyampaikan sesuatu yang sambung (relevan) dengan topik yang dibicarakan. HGD (8) berikut dapat dibedah dari perspektif maksim relevansi.
- Dalam suatu sidang parlemen Inggris bertemulah dua tokoh besar politikus: Perdana Menteri Winston Churchill dan pemimpin oposisi Clemen Atlee, yang gigih memperjuangkan nasionalisasi perusahaan besar, korporasi besar, pabrik besar, industri besar, dan pusat-pusat belanja yang besar.
Usai sidang, kebetulan keduanya ke toilet untuk kencing. Sambil kencing, dengan wajah cemberut Churchill bilang pada Atlee yang sejak tadi menoleh kepadanya, “Jangan lihat-lihat, ya! Kamu ‘kan sukanya menasionalisasi yang besar-besar …” (“Jaya Suprana Show” TPI, 2000; Basyaib & Hermawan, 2000: 2)
Pada wacana HGD (8) ini terjadi pelanggaran maksim relevansi. Dalam konteks historis-politis yang hendak dinasionalisasikan oposan Clemen Atlee, yang juga tokoh besar sosialis dan buruh di
Inggris, adalah yang bersangkutan dengan ekonomi, yaitu pabrik, perusahaan, pusat belanja, industri, yang besar-besar di seluruh pelosok negeri Inggris. Maka, sebesar (dan sepanjang) apa pun “burung” Pak Perdana Menteri tidak termasuk sasarannya.
Dengan demikian, besar “burung” (milik siapa pun!) tidak mempunyai relevansi sedikit pun dengan perjuangan Atlee. Konteks keduanya berbeda. Inilah pelanggaran terhadap maksim relevansi (Yule, 1996; Crystal, 1997) itu.
Masih tetang maksim relevansi dalam HGD, Jawa Pos (April 1998?) pernah memuat lelucon tentang arti sufiks pungutan dari bahasa Sanskrit {-wan} dalam wacana bahasa Indonesia. Akhiran {- wan}, kata GD, artinya ‘mempunyai banyak …’.
Contohnya, ilmuwan artinya ‘orang yang banyak ilmunya’, jutawan ‘orang yang hartanya banyak berjuta-juta’, hartawan ‘orang yang banyak hartanya’. Kemudian, kalau Taiwan? Wan terakhir pastilah tidak memiliki relevansi sama sekali dengan ketiga {- wan} pertama. Akan tetapi, justru penyimpangan maksim inilah yang memicu lahirnya HGD.
Kebiasaan GD membuat humor dalam situasi yang genting, krusial, dan urgen pun ternyata, dalam perspektif maksim relevansi, sering memicu humor justru karena tidak “nyambungnya” pernyataan GD dengan tuturan orang lain.
Baca Juga:
Hikvision Hadirkan Guanlan Encoding, Teknologi AI yang Pangkas Biaya Penyimpanan Video hingga 50%
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Selanjutnya






