Apa pun yang menyangkut GD–ucapan, tindakan, humor, kontroversi, berita, komentar dari dan tentang dia – selalu menarik dan karenanya banyak dibicarakan, diseminarkan, diteliti, dan diberitakan media. Di samping itu, kolom, artikel, dan buku tulisan GD sendiri juga terus mengalir.
Puluhan buku serta ratusan artikel dan berita bersangkutan dengan kebijakan politis, dekonstruksi pemikiran, pluralitas budaya, inklusivisme dan universalitas keagamaan GD sudah banyak dibahas orang.
Sebutlah beberapa contohnya: “Gus Dur: Sebuah Cermin Banyak Gambar” (Hamzah & Anam, 1989), Bunga Rampai: NU dan Gus Dur (Yusuf, 1994), Gus Dur-Pak Harto: Hikmah Salaman Genggong (Choirie, 1996), “Gus Dur” (Rahardjo, 1996), Pemikiran Politik Gus Dur-Amien Rais tentang Negara (Al-Brebesy, 1999), Beyond The Symbols: Jejak Antropologis Pemikiran dan Gerakan Gus Dur (Tim Incres, 2000), “Psikoterapi Abdurrahman Wahid” (Sutanto, 2000), dan “Islam Antikekerasan: Memahami Refleksi Gus Dur” (Alfian M., 2000).
GD juga sangat produktif menulis artikel, makalah, kolom, dan buku. Sebagian karyanya bisa disebut di sini: “Universalisme Islam dan Kosmopolitanisme Peradaban” (Rachman, ed., 1994), “Islam, Ideologi, dan Etos Kerja di Indonesia” (Rachman, ed., 1994),
“Konsep-konsep Keadilan” (Rachman, ed., 1994), Islam Tanpa Kekerasan (1998), Kiai Nyentrik Membela Pemerintah (1998), Mengurai Hubungan Agama dan Negara (1999), Prisma Pemikiran Gus Dur (1999), Tuhan Tak Perlu Dibela (1999), Membangun Demokrasi (1999), Menggerakkan Tradisi: Esai Pesantren (2001), dll.
Ada pula buku kumpulan tulisannya yang bernuansa humor politis, misalnya Melawan Melalui Lelucon (2000).
GD lebih dikenal karena kenyelenehan, kenyentrikan, dan humorisnya. Maka, sahabat-sahabat dekatnya pun mengumpulkan dan membukukan humor tentang GD dan humor yang memang dilontarkan secara verbal oleh GD; keduanya disebut saja humor verbal GD (HGD).
Beberapa dari buku-buku tersebut – yang dianggap cukup representatif — adalah Presiden Dur yang Gus Itu: Anehdot-anehdot K.H. Abdurrahman Wahid (Adnan, ed., 2000) dan Gitu Aja Kok Repot! Ger-geran Gaya Gus Dur (Basyaib & Hermawan, ed., 2000).
Pembicaraan tentang humor Gus Dur (HGD) memang sudah banyak. Akan tetapi, penelitian HGD dari sudut pandang pragmatik wacana belum pernah dilakukan, hingga detik ini. Padahal, barangkali karena keterbatasan fisiknya, GD terlihat lebih menonjol dalam fenomena lisan ketimbang gerak fisik.
Baca Juga:
Hikvision Hadirkan Guanlan Encoding, Teknologi AI yang Pangkas Biaya Penyimpanan Video hingga 50%
Penelitian ini mengupas bagaimana aksi lisan atau tindak tutur (speech acts versi J.R. Searle) HGD dari perspektif pragmatik.
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Selanjutnya






