Humor Gus Dur, Multikulturalisme – Inklusif vs Sektarianisme – Inklusif

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 22 September 2020 - 18:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mantan Presiden Indonesia keempat,  Abdurrahman Wahid. (Foto : Muslimobsession.com)

Mantan Presiden Indonesia keempat, Abdurrahman Wahid. (Foto : Muslimobsession.com)

Kepada Tuhan pun, banyak umat menyembah- Nya dengan prinsip “transaksi dagang”. Maka, ini perlu disentil. Jika disentil langsung, banyak pihak tersinggung. Hasilnya justru kontraproduktif (Wahid, 2000). Semuanya cukup dilawan dengan lelucon.

Pada konteks tertentu, antarpenutur dapat juga berusaha keras mencapai kecocokan secara kompromistik (Leech dalam Crystal, 1997; cf. Wodak, 1996), sehingga pertukaran makna dalam komunikasi dapat tercapai dengan mulus. Akan tetapi, wujud kompromi dalam HGD tetap menampakkan kekhasan, jadi tidak benar-benar kecocokan antarpenutur. Perhatikan contoh (14)!

  • Clinton: Astronot USA sudah bisa mendaratkan pesawatnya tepat di tengah danau di bulan sana. Gus Dur: Tepat di tengah danau itukah?

Clinton: (Berpikir sejenak) Yah … di sekitar situlah.

Gus Dur: Kalau cuma begitu, dokter Indonesia sudah berhasil menolong orang melahirkan lewat dubur.

Clinton: (Seperti tak percaya) Tepat di duburnya itukah?

Gus Dur: Yah … di sekitar situlah. (Bangkit, 17-23 April 2000)

Maksim simpati, sebagai komponen prinsip kesantunan, sering dijungkirbalikkan dalam HGD. Perhatikan wacana (15) tentang seorang tentara yang menjadi khatib salat Jumat di suatu masjid.

  • Suatu ketika seorang tentara danramil (komandan rayon militer) memberikan khotbah Jumat. Setiap khotbah Jumat, seorang khotib selalu mengajak jamaah bertakwa. Lazimnya, khotib mengatakan, “Marilah kita bertakwa kepada Allah Swt…!”

Tetapi, karena khotib kali ini seorang tentara, “bahasa tentara”-nya pun keluar. Sehabis mengajak takwa, ada tambahan, “… Awas ya, kalau tidak!” (Adnan, 2000: 7-8)

Dalam konteks beribadah di hadapan Tuhan Yang Mahakuasa bahasa yang digunakan hendaklah tindak tutur yang santun. Kesantunan itu diwujudkan dalam ungkapan yang sejuk dan simpatik, bukan teriakan keras, garang, dan mengancam.

Dalam perspektif Leech (Crystal, 1997; Levinson, 1995), menunjukkan rasa simpati kepada pihak lain akan membangun suasana interaktif- komunikatif, sehingga transformasi pesan-pesan keagamaan dapat efektif sampai tujuan (Wahid, 1999; 2000).

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru