Kepada Tuhan pun, banyak umat menyembah- Nya dengan prinsip “transaksi dagang”. Maka, ini perlu disentil. Jika disentil langsung, banyak pihak tersinggung. Hasilnya justru kontraproduktif (Wahid, 2000). Semuanya cukup dilawan dengan lelucon.
Pada konteks tertentu, antarpenutur dapat juga berusaha keras mencapai kecocokan secara kompromistik (Leech dalam Crystal, 1997; cf. Wodak, 1996), sehingga pertukaran makna dalam komunikasi dapat tercapai dengan mulus. Akan tetapi, wujud kompromi dalam HGD tetap menampakkan kekhasan, jadi tidak benar-benar kecocokan antarpenutur. Perhatikan contoh (14)!
- Clinton: Astronot USA sudah bisa mendaratkan pesawatnya tepat di tengah danau di bulan sana. Gus Dur: Tepat di tengah danau itukah?
Clinton: (Berpikir sejenak) Yah … di sekitar situlah.
Gus Dur: Kalau cuma begitu, dokter Indonesia sudah berhasil menolong orang melahirkan lewat dubur.
Clinton: (Seperti tak percaya) Tepat di duburnya itukah?
Gus Dur: Yah … di sekitar situlah. (Bangkit, 17-23 April 2000)
Maksim simpati, sebagai komponen prinsip kesantunan, sering dijungkirbalikkan dalam HGD. Perhatikan wacana (15) tentang seorang tentara yang menjadi khatib salat Jumat di suatu masjid.
- Suatu ketika seorang tentara danramil (komandan rayon militer) memberikan khotbah Jumat. Setiap khotbah Jumat, seorang khotib selalu mengajak jamaah bertakwa. Lazimnya, khotib mengatakan, “Marilah kita bertakwa kepada Allah Swt…!”
Tetapi, karena khotib kali ini seorang tentara, “bahasa tentara”-nya pun keluar. Sehabis mengajak takwa, ada tambahan, “… Awas ya, kalau tidak!” (Adnan, 2000: 7-8)
Dalam konteks beribadah di hadapan Tuhan Yang Mahakuasa bahasa yang digunakan hendaklah tindak tutur yang santun. Kesantunan itu diwujudkan dalam ungkapan yang sejuk dan simpatik, bukan teriakan keras, garang, dan mengancam.
Baca Juga:
Hikvision Hadirkan Guanlan Encoding, Teknologi AI yang Pangkas Biaya Penyimpanan Video hingga 50%
Dalam perspektif Leech (Crystal, 1997; Levinson, 1995), menunjukkan rasa simpati kepada pihak lain akan membangun suasana interaktif- komunikatif, sehingga transformasi pesan-pesan keagamaan dapat efektif sampai tujuan (Wahid, 1999; 2000).
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Selanjutnya






