PRINSIP KESANTUNAN HUMOR GUS DUR
Prinsip kesantunan mencakup maksim kebaikhatian, kemurahhatian, penerimaan, kerendah- hatian, kecocokan, dan simpati. Setiap tuturan dapat menerapkan satu maksim, dapat juga lebih (Aitchison, 1995; Levinson, 1995).
Bagaimana maksim ini diperlakukan dalam HGD? Contohnya kutipan tentang kiai dan santri yang mencuri ayam dan “kambing Gusti Allah” di bagian muka. Yang lain, perhatikan wacana (13) berikut.
- Suatu ketika berkumpullah para penjaga gereja, wihara, kuil, pura, klenteng, masjid, dan tempat ibadah lainnya untuk membagi secara adil melimpahnya uang sumbangan umat akhir-akhir ini: berapa yang harus diambil mereka dan berapa yang harus disetor untuk Tuhan.
Penjaga gereja dan pura usul, “Sebaiknya, 50% untuk kita, 50% untuk Tuhan.”
Penjaga wihara dan klenteng menyela, “Tuhan tak perlu banyak-banyak. Dia ‘kan Mahakaya. Menurut saya, semuanya untuk tempat ibadah. Kalau ada sisanya, baru kita serahkan kepada- Nya.”
“Tidak bisa begitu,” kata penjaga kuil, “kita ambil saja secukupnya, sisanya kita serahkan ke Tuhan.”
Tampaknya sulit dicapai kata sepakat.
“Saya punya usul begini saja,” kata penjaga tempat ibadah kepercayaan. “Kita bikin lingkaran berdiameter 100cm di tanah. Seluruh uang sumbangan kita taburkan ke atas. Yang jatuh di dalam lingkaran milik Tuhan, yang di luarnya milik kita. Bagaimana?”
Separo mendukung, separo menentang.
Baca Juga:
Hikvision Hadirkan Guanlan Encoding, Teknologi AI yang Pangkas Biaya Penyimpanan Video hingga 50%
Tiba-tiba, penjaga masjid berseru, “Stop. Gitu aja kok repot. Sekarang begini saja. Tak usah pakai lingkaran. Seluruh uang kita taburkan ke atas. Yang jatuh ke tanah, itu milik kita. Lha, yang tidak jatuh berarti sudah diambil Tuhan. Setuju?”
Ternyata, tak satu pun penjaga tempat ibadah yang menolak. (Adnan, 2000: 24-25)
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Selanjutnya






