Humor Gus Dur, Multikulturalisme – Inklusif vs Sektarianisme – Inklusif

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 22 September 2020 - 18:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mantan Presiden Indonesia keempat,  Abdurrahman Wahid. (Foto : Muslimobsession.com)

Mantan Presiden Indonesia keempat, Abdurrahman Wahid. (Foto : Muslimobsession.com)

PRINSIP KESANTUNAN HUMOR GUS DUR

Prinsip kesantunan mencakup maksim kebaikhatian, kemurahhatian, penerimaan, kerendah- hatian, kecocokan, dan simpati. Setiap tuturan dapat menerapkan satu maksim, dapat juga lebih (Aitchison, 1995; Levinson, 1995).

Bagaimana maksim ini diperlakukan dalam HGD? Contohnya kutipan tentang kiai dan santri yang mencuri ayam dan “kambing Gusti Allah” di bagian muka. Yang lain, perhatikan wacana (13) berikut.

  • Suatu ketika berkumpullah para penjaga gereja, wihara, kuil, pura, klenteng, masjid, dan tempat ibadah lainnya untuk membagi secara adil melimpahnya uang sumbangan umat akhir-akhir ini: berapa yang harus diambil mereka dan berapa yang harus disetor untuk Tuhan.

Penjaga gereja dan pura usul, “Sebaiknya, 50% untuk kita, 50% untuk Tuhan.”

Penjaga wihara dan klenteng menyela, “Tuhan tak perlu banyak-banyak. Dia ‘kan Mahakaya. Menurut saya, semuanya untuk tempat ibadah. Kalau ada sisanya, baru kita serahkan kepada- Nya.”

“Tidak bisa begitu,” kata penjaga kuil, “kita ambil saja secukupnya, sisanya kita serahkan ke Tuhan.”

Tampaknya sulit dicapai kata sepakat.

“Saya punya usul begini saja,” kata penjaga tempat ibadah kepercayaan. “Kita bikin lingkaran berdiameter 100cm di tanah. Seluruh uang sumbangan kita taburkan ke atas. Yang jatuh di dalam lingkaran milik Tuhan, yang di luarnya milik kita. Bagaimana?”

Separo mendukung, separo menentang.

Tiba-tiba, penjaga masjid berseru, “Stop. Gitu aja kok repot. Sekarang begini saja. Tak usah pakai lingkaran. Seluruh uang kita taburkan ke atas. Yang jatuh ke tanah, itu milik kita. Lha, yang tidak jatuh berarti sudah diambil Tuhan. Setuju?”

Ternyata, tak satu pun penjaga tempat ibadah yang menolak. (Adnan, 2000: 24-25)

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru