Humor Gus Dur, Multikulturalisme – Inklusif vs Sektarianisme – Inklusif

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 22 September 2020 - 18:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mantan Presiden Indonesia keempat,  Abdurrahman Wahid. (Foto : Muslimobsession.com)

Mantan Presiden Indonesia keempat, Abdurrahman Wahid. (Foto : Muslimobsession.com)

Dari sisi bahasa, kata-kata ngelapi, nyobain, numpaki, mencet dapat bernuansa porno. Walaupun demikian, dapat saja justru kata-kata tersebut dalam konteks tuturan (11) sudah jelas acuannya.

Hal demikian tentu saja amat disadari oleh GD. Kesengajaan pelanggaran maksim cara ini memicu lahirnya HGD.

Aspek lain dalam maksim cara adalah bahwa informasi hendaknya disampaikan dengan runtut (Grice dalam Yule, 1996; Samsuri, 1997). Dalam wacana HGD, keruntutan itu sengaja dilanggarnya sebab justru dengan pelanggaran inilah efek lucu suatu tuturan dapat terjadi.

Perhatikan wacana (12) ketika GD memberikan pengarahan di depan peserta Muktamar I PKB di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, pada Rabu, 26 Juli 2000, berikut!

  • Ada dua loket di surga. Satu loket yang bertuliskan SUAMI TAKUT ISTRI ramai dipenuhi orang antre. Loket satunya lagi bertulisan SUAMI TIDAK TAKUT ISTRI. Yang antre hanya satu orang, kecil lagi. Seorang lelaki perkasa dari antrean panjang itu penasaran dan tidak tahan untuk tidak bertanya, “Pak, sudah benar Sampeyan di loket ini? Jangan-jangan keliru…”

“Sudah. Memang di sini loket saya,” jawab lelaki sendirian itu mantap. “Berarti Sampeyan benar- benar lelaki yang tidak di bawah kekuasaan istri,” komentar lelaki perkasa.

“Bukan begitu… Saya disuruh istri saya di loket sini,” jawabnya melemah. (Rekaman, AHS, 26 Juli 2000).

Humor ini memang sengaja membuat kecohan, sehingga pendengar/pembaca akan terkecoh kecele. Seandainya sejak awal lelaki kecil sendirian itu mengatakan dengan runtut bagian “saya disuruh istri” dipaparkan terlebih dahulu di muka, baru kemudian mengatakan “memang di sini loket saya”, orang tidak salah mengerti.

Dengan demikian, kesadaran yang sama-sama dibangun mengenai “ikatan suami takut istri” (ISTI) menemui titik temunya. Akan tetapi, pelanggaran keruntutan ini  memang sengaja dilakukan untuk membangun efek humor. Jika keruntutan dipatuhi, seperti saran Grice (Crystal, 1997), yang terjadi wacana tuturan biasa, bukan wacana humor.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru