Humor Gus Dur, Multikulturalisme – Inklusif vs Sektarianisme – Inklusif

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 22 September 2020 - 18:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mantan Presiden Indonesia keempat,  Abdurrahman Wahid. (Foto : Muslimobsession.com)

Mantan Presiden Indonesia keempat, Abdurrahman Wahid. (Foto : Muslimobsession.com)

Dalam cara pandang Brown dan Levinson (Levinson, 1995), yang diprioritaskan adalah menyelamatkan jiwa si sakit; soal partai, agama, sekte, aliran, … nomor sekian belas sebab menyelamatkan jiwa demikian pentingnya.

Jika toh ada kepentingan untuk mengajukan pertanyaan, pertanyaan itu haruslah bersangkutan dengan terapi penyelamatan jiwa pemuda korban kecelakaan itu. Itu pun kalau keadaan memungkinkan ditanya.

Dalam wacana (20), maksud korban mengatakan kalimat terakhir “Saya P …” mungkin, seandainya tidak keburu pingsan, adalah PKB, tetapi mungkin juga PPP, PNU, atau pun PKU. Pembaca pun terpancing untuk menyusun interpretasi lebih lanjut, seandainya P-nya selain PKB, boleh jadi korban itu ditinggalkan begitu saja.

Akan tetapi, sasaran GD melontarkan HGD adalah masyarakat Indonesia yang masih tercengkeram oleh nilai-nilai sektarianisme keagamaan, primordialisme kedaerahan, kepartaian,

ideologi, aliran, dll. (Wahid, 1998; 1999). Jika orang terhegemoni oleh pikiran sektarian, jiwa manusia pun mudah dinomorduakan (Wahid, 2000). Kemanusiaan, pluralitas, multikulturalisme, dan inklusivitas adalah obsesi GD.

Maka, menghadapi sekelompok kaum yang masih eksklusif dan sektarianistik seperti ini, GD pun mengkritiknya, bukan dengan bahasa emosional, tetapi dengan lelucon khasnya: HGD. Begitulah pada dasarnya humor Gus Dur menggelar spirit multikulturalisme-inklusif vs sektarianisme-inklusif

BEBERAPA AGENDA KE DEPAN

Dari pembahasan panjang lebar di muka, dapat ditarik beberapa simpulan.

(i) HGD tidak memenuhi maksim tutur Grice, baik maksim kuantitas, kualitas, relevansi, maupun maksim cara; keempat maksim dilanggarnya.

(ii) HGD tidak memenuhi prinsip kesantunan Leech, baik maksim kebaikhatian, kemurahatian, peneri¬maan, kerendahhatian, kecocokan, dan maksim simpati; dengan demikian, tidak satu pun maksim kesantunan yang tidak dilanggar.

(iii) HGD tidak sesuai dengan parameter pragmatik Brown & Levinson, baik parameter jarak sosial, status sosial, maupun peringkat tindak tutur; ketiga-tiganya dilanggar. Dengan kata lain, dalam wacana HGD terjadi pelanggaran terhadap tiga belas rambu-rambu tindak tutur.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru